Ahad, 23 Desember 2018
"Always, I miss u, Miss U."
"Always, I love u, Miss U."
"Love you too," jawabnya.
Itulah tukar kata mesra di antara kami ketika ingin mengakhir percakapan.
Namun, tiba-tiba ia menulis, "I want to ..."
Satu kalimat terputus yang hanya disusul dengan emoji senyum malu.
Lalu saya tanya. Ia enggan menjawab.
"Biar saya simpan."
"Gak usah sungkan," kataku.
"Kamu gak bisa kasih, Akh. Jadi tidak saya ucapkan," katanya.
"Tapi bisa kan sekedar tahu."
"Nggak."
"Ya sudah. Saya pergi deh. Wassalamu 'alaikum," kataku lalu pergi bersama Rendy naik motor.
Saya bisa dengar suara dering telepon di saku saat saya dan Rendy sedang di jalan. Saya tahu dia yang menelepon.
Setibanya di tempat tujuan, saya langsung membuka pesannya.
"Akhi. Akhi. I want to hug, Akhi."
Kalimat yang berarti "saya mau pelukan" jelas membuat saya bahagia, menunjukkan cintanya semakin kuat terhadapku. Meski itu tidak mungkin saya berikan.
Rasa takut ditinggal, rasa takut jika saya marah dengan sikapnya, membuat ia terpaksa mengungkapkannya dengan jujur. Namun, saya coba mengerti segala tindakannya, meski ia meminta maaf karena itu.
"Maaf, Rendy sudah nungguin mau diantar beli nasi," dalihku kepadanya.
"Oh, saya pikir kamu marah, mo ninggalin saya," katanya.
"Maaf, maaf, maaf. Gaklah."
"Tahu gitu gak saya sebutin mau saya. Rugi saya. Malu. Udah ah, malu-maluin."
"Gak usah sungkan, Miss U. Semoga terwujud suatu hari nanti. Tapi entah kapan."
"Udah akh malu. Udah ya, jangan dibahas lagi."
"Always, I miss u, Miss U."
"Always, I love u, Miss U."
"Love you too," jawabnya.
Itulah tukar kata mesra di antara kami ketika ingin mengakhir percakapan.
Namun, tiba-tiba ia menulis, "I want to ..."
Satu kalimat terputus yang hanya disusul dengan emoji senyum malu.
Lalu saya tanya. Ia enggan menjawab.
"Biar saya simpan."
"Gak usah sungkan," kataku.
"Kamu gak bisa kasih, Akh. Jadi tidak saya ucapkan," katanya.
"Tapi bisa kan sekedar tahu."
"Nggak."
"Ya sudah. Saya pergi deh. Wassalamu 'alaikum," kataku lalu pergi bersama Rendy naik motor.
Saya bisa dengar suara dering telepon di saku saat saya dan Rendy sedang di jalan. Saya tahu dia yang menelepon.
Setibanya di tempat tujuan, saya langsung membuka pesannya.
"Akhi. Akhi. I want to hug, Akhi."
Kalimat yang berarti "saya mau pelukan" jelas membuat saya bahagia, menunjukkan cintanya semakin kuat terhadapku. Meski itu tidak mungkin saya berikan.
Rasa takut ditinggal, rasa takut jika saya marah dengan sikapnya, membuat ia terpaksa mengungkapkannya dengan jujur. Namun, saya coba mengerti segala tindakannya, meski ia meminta maaf karena itu.
"Maaf, Rendy sudah nungguin mau diantar beli nasi," dalihku kepadanya.
"Oh, saya pikir kamu marah, mo ninggalin saya," katanya.
"Maaf, maaf, maaf. Gaklah."
"Tahu gitu gak saya sebutin mau saya. Rugi saya. Malu. Udah ah, malu-maluin."
"Gak usah sungkan, Miss U. Semoga terwujud suatu hari nanti. Tapi entah kapan."
"Udah akh malu. Udah ya, jangan dibahas lagi."
Komentar
Posting Komentar