Rabu, 5 Desember 2018, kisaran pukul 15.00 WIB hingga sejam kemudian.
"Tar kalo saya tantangin mau bingung kamu. Ywdh samperin bawa hati."
Itulah kalimat yang siang itu saya mengatur waktu. Mampir ke rumah teman sebelum Ashar, lalu mampir ke sekolahnya pas pukul 15.00, waktu dia pulang.
Ternyata saya tiba pukul 14.51 WIB.
Saya menunggu di pinggir jalan sambil mengirim pesan, memberi tahu kalau saya sudah di depan sekolah.
Dia hanya jawab, "Tau ah, mancing terus. Bawa hati gak? Kalau gak bawa, pulang aja."
Dalam hati saya berkata, "Saya malah diusir."
Ternyata saya tidak melihat ketika dia keluar. dan dia, juga tidak melihat saya menunggu, karena ternyata dia langsung berbelok.
Tahu-tahu dia memang sudah sampai rumahnya.
Lalu muncullah ide untuk ikut dia agar saya tahu jalan mudah untuk pergi.
"Kamu ke sini lagi," pintaku.
Setelah debat di pesan WA, akhirnya dia datang dan lebih dulu menemukanku yang sedang menunggu.
Saya lihat ekspresinya, seperti ada kekhawatiran di wajahnya. Jelas dia terkejut.
Saya jelaskan, saya hanya mau lewat jalan yang mudah untuk pergi dengan cara mengikuti motornya.
Ia pun menuntunku ke TK.
Itulah pertama kalinya saya melihat di mengendarai motor, meski melihat hanya dari belakang.
Setibanya di TK, kami berhenti sejenak. bertukar pandang dan kata untuk sejenak sebelum berpisah.
Saat itu saya bahagia bisa melihat wajahnya untuk keempat kalinya. melihat jelas.
Namun, sangat berbeda. Saya melihat wajah itu ekspresi dari menahan gejolak rasa yang tidak tenang. Dia takut. Saat itu saya hanya beranggapan bahwa dia merasa kecewa dengan kemunculanku yang tiba-tiba.
Saya hanya tertawa-tawa, seolah menikmati. Tanpa sadar saya telah mengitimidasi perasaannya. terlihat dari ekspresinya.
Pada akhirnya dia mengungkapkan melalui pesan bahwa dia takut tidak bisa menjaga hati. Dia mengaku saat itu dia gemetar. Dia menganggap saya nekat, dia takut saya melanggar batas.
"Tar kalo saya tantangin mau bingung kamu. Ywdh samperin bawa hati."
Itulah kalimat yang siang itu saya mengatur waktu. Mampir ke rumah teman sebelum Ashar, lalu mampir ke sekolahnya pas pukul 15.00, waktu dia pulang.
Ternyata saya tiba pukul 14.51 WIB.
Saya menunggu di pinggir jalan sambil mengirim pesan, memberi tahu kalau saya sudah di depan sekolah.
Dia hanya jawab, "Tau ah, mancing terus. Bawa hati gak? Kalau gak bawa, pulang aja."
Dalam hati saya berkata, "Saya malah diusir."
Ternyata saya tidak melihat ketika dia keluar. dan dia, juga tidak melihat saya menunggu, karena ternyata dia langsung berbelok.
Tahu-tahu dia memang sudah sampai rumahnya.
Lalu muncullah ide untuk ikut dia agar saya tahu jalan mudah untuk pergi.
"Kamu ke sini lagi," pintaku.
Setelah debat di pesan WA, akhirnya dia datang dan lebih dulu menemukanku yang sedang menunggu.
Saya lihat ekspresinya, seperti ada kekhawatiran di wajahnya. Jelas dia terkejut.
Saya jelaskan, saya hanya mau lewat jalan yang mudah untuk pergi dengan cara mengikuti motornya.
Ia pun menuntunku ke TK.
Itulah pertama kalinya saya melihat di mengendarai motor, meski melihat hanya dari belakang.
Setibanya di TK, kami berhenti sejenak. bertukar pandang dan kata untuk sejenak sebelum berpisah.
Saat itu saya bahagia bisa melihat wajahnya untuk keempat kalinya. melihat jelas.
Namun, sangat berbeda. Saya melihat wajah itu ekspresi dari menahan gejolak rasa yang tidak tenang. Dia takut. Saat itu saya hanya beranggapan bahwa dia merasa kecewa dengan kemunculanku yang tiba-tiba.
Saya hanya tertawa-tawa, seolah menikmati. Tanpa sadar saya telah mengitimidasi perasaannya. terlihat dari ekspresinya.
Pada akhirnya dia mengungkapkan melalui pesan bahwa dia takut tidak bisa menjaga hati. Dia mengaku saat itu dia gemetar. Dia menganggap saya nekat, dia takut saya melanggar batas.
Komentar
Posting Komentar